Baghas Budi Wicaksono Catatan Mahasiswa Ilmu Ekonomi

April 28, 2020

Model Kebijakan Rasulullah SAW dalam Ikhtiyar Menghadapi Wabah

Filed under: Uncategorized — baghas @ 2:35 am

Kata Wabah berasal dari bahasa Arab yaitu waba’. Dalam Kitab al-‘Ayn, waba’ diartikan sebagai tha’un, yaitu setiap penyakit yang umum. Misalnya, penduduk suatu daerah secara umum terkena wabah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, Wabah diartikan sebagai penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas (seperti wabah cacar, disentri, kolera; epidemi.   

Dikutip dari Was the Plague Disease a Motivating or an Inhibiting Factor in the Early Muslim Community, Abdul Nasser Kaadan MD, Ph.D Kepala International Society for History of Islamic Medicine (ISHIM) dan Mahmud Angrini MD sebagai pengajar di Health Institute of Aleppo , delapan wabah yang sempat terjadi pada masyarakat Muslim pada masa Nabi SAW dan Shahabat, antara lain ;

Pertama, Plague of Shirawayh, Wabah ini dipertimbangkan sebagai kejadian epidemik pertama yang terjadi pada masyarakat muslim. Plague of Shirawayh terjadi pada 627-628 M di ibukota Persia. Nama wabah diperoleh dari Siroes, Raja Persia dari Dinasti Sassanian yang meninggal karena penyakit ini pada 629 M. Dalam kitab Tarikh al-Omam wal-Muluk dari Muhammad Al-Tabari dikatakan, wabah ini membunuh banyak warga Persia meski tidak ada pasti jumlah muslim yang meninggal. Bukti dan jejak terkait wabah ini sangat jarang, namun masyarakat Semenanjung Arab kemungkinan bisa melewati wabah ini.

Kedua, Plague of , Sesuai namanya, Plague of Amwas awalnya menyerang sebuah desa kecil bernama Amwas yang terletak di Palestina atara Jerusalem dan Al-Ramlah. Wabah ini menyerang tentara Arab yang sedang berada di Amwas pada bulan Muharram dan Safar pada 638 dan 639 M. Plague of Amwas kemungkinan adalah bubonic plague berdasarkan catatan Jacob of Edessa.

Sebanyak 2.500 orang meninggal termasuk orang-orang dekat Rasullah SAW yaitu Abu Ubaidah, Yazid bin Abu Sufyan, Muaz bin Jabal dan puteranya Shurahbil din Hasanah, Al-Fadl bin Al-Abbas, Abu Malik Al-Ashari, Al-Hareth bin Hisham, Abu Jandal, Uwais Al-Qarni, serta Suhail bin Amr. Mengutip Al-Tabari, musuh Islam sempat mempertimbangkan penaklukan karena serangan wabah yang melemahkan kekuatan dan membuat panik.

Sebelum wabah sempat terjadi kelaparan parah, hingga tahun ini disebut Al-Ramadah. Di wilayah Suriah dan Palestina, banyak masyarakatnya yang terserang penyakit ini. Banyaknya serangan wabah dipengaruhi rendahnya daya tahan tubuh dan tikus yang terinfeksi bakteri penyebab penyakit. Tikus ini menyerang persediaan pangan dan bersarang dekat sumber air warga.

Ketiga, Plague of Kufah Wabah ini terjadi di Kufah pada 669 M di masa khalifah Muawiyah dari Bani Umayyah. Gubernur setempat Al-Mughirah bin Shubah dilaporkan keluar dari wilayahnya saat terjadi serangan wabah. Dia baru kembali saat serangan mulai reda dan meninggal karena penyakit tersebut pada 670 M. Serangan wabah bertepatan dengan kedatangan tentara Arab ke pesisir Asia melalui Bosphorus pada 668 M. Namun udara dingin, minim baju hangat, dan minimnya sarana lain mengakibatkan mereka terserang wabah serta disentri yang menghancurkan camp.

Keempat, Plague of Al-Jarif (the violent plague). Jenis wabah ini menyapu Irak selatan lewat Basar seperti banjir kira-kira tahun 688-689 M. Dalam tiga hari sebanyak 70000, 71000, dan 73000 orang telah meninggal pada April 689 M. Kebanyakan korban meninggal pada harus keempat setelah terinfeksi. Masyarakat dan pemerintah kesulitan menguburkan jenazah, sehingga harus mencegah mayat jangan sampai dimangsa hewan buas.

Jenazah akhirnya dikumpulkan dalam satu tempat tertutup dan dikunci, yang diharapkan mencegah kedatangan binatang liar. Tidak ada data pasti asal dan tanggal serangan, yang kemungkinan diakibatkan wabah yang muncul beberapa kali. Penulis John bar Penkaye menyatakan wabah ini menjadi kejadian paling parah yang pernah dilihat selama hidup. Saking parahnya, penduduk di wilayah Irak utara keluar dari rumahnya demi berlindung dari wabah. Sayangnya, penduduk tersebut justru menjadi korban perampokan dan mengundang niat jahat lain. John ber Penkaye berharap tak perlu lagi melihat wabah serupa Plague of Al-Jarif.

Kelima, Plague of Fatayat. Plague of al-Fatayat terjadi di Basrah, Kufah, Waset, dan Damaskus pada 706M. Diberi nama plague of fatayat karena kebanyakan korban yang meninggal adalah pelayan perempuan dan wanita muda. Tingginya angka kematian mengindikasikan wabah kemungkinan besar adalah bubonic plague.

Kenam, Plague of Al-Ashraf. Sesuai namanya, korban wabah plague of Al-Ashraf kebanyakan adalah laki-laki dari kalangan bangsawan. Wabah terjadi di Irak dan Suriah pada 716 M selama pemerintahan Al-Hajjaj, gubernur Irak dari Bani Umayyah yang terkenal. Putera mahkota Sulaiman bin Abd Al-Malik dikabarkan meninggal karena wabah ini.

Ketujuh, Plague of 743-744 M. Wabah ini dilaporkan membunuh 100 ribu orang di wilayah Mesopotamia dan 20 ribu jiwa tiap hari selama satu bulan di wilayah Bosrah dan Hawran. Wabah yang ternyata bubonic plague ini menyerang bersamaan dengan kelaparan seperti dijelaskan dalam Zuqnin Chronicle. Serangan wabah ditandai bengkak, sakit, dan luka pada kebanyakan kepala keluarga. Sayangnya karena wabah menyerang saat musim dingin, mayat tidak bisa dikuburkan sehingga dibuang di tempat umum.

Akibatnya mereka yang hidup berisiko terkontaminasi jenazah yang mulai membusuk dan kelaparan. Mereka yang punya makanan ternyata tidak bernasib lebih baik. Stok makanan mereka dimangsa tikus yang membawa wabah ini dan berdampak buruk pada manusia.

Kedelapan, Plague of Salam. Serangan wabah terjadi di Basrah pada 750 M dan Damaskus pada 754 M. Serangan paling parah terjadi saat Ramadhan dengan tingkat kematian seribu per hari. Sekitar 70 ribu orang mati di hari pertama serangan dan jumlah yang sama meninggal di hari kedua.

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW telah menyampaikan berbagai isyarat kenabiannya tentang perkara-perkara yang akan terjadi di akhir zaman kepada para sahabatnya. Tentunya, isyarat ini menjadi pelajaran dan hikmah berharga bagi kita sebagai pengikutnya. Khusus berkenaan dengan turunnya wabah atau tha’un berjenis Covid 19 atau lebih dikenal dengan nama Corana yang sekarang tengah mewabah secara global, termasuk di negera kita adalah termasuk peristiwa wabah yang sudah dinubuwatkan oleh Baginda Nabi SAW. Bahkan Beliau SAW telah mengingatkan, sumber petaka itu  berasal  dari arah Timur, yaitu arah terbitnya tanduk setan atau tanduk cahaya matahari (HR Bukhari). 

Secara geografis, arah Timur meliputi Benua Asia, Eropa Timur dan Rusia. terkadang dilihat dari jauhnya jarak ke Eropa. negara Arab, Israel dan Turki dikategorikan sebagai negara Timur Tengah atau kadangkala Timur Dekat. Sementara itu negara-negara Asia di sebelah timur India, disebut sebagai Timur Jauh.

Apabila dikaitkan dengan epidemi saat ini, isyarat Rasulullah SAW benar dan terbukti. Dimana wabah Covid 19 yang menyebabkan kematian masal dan meluas ini berasal dari arah Timur, yaitu kota Wuhan di Cina.

Pandemi COVID-19 memaksa pemerintah dan media massa untuk memberikan saran yang paling akurat dan bermanfaat bagi populasi dunia, karena penyakit ini memang mendunia. Para profesional perawatan kesehatan sangat dibutuhkan, dan begitu pula para ilmuwan yang mempelajari penularan dan efek pandemi.

Rasulullah SAW Di samping isyarat nubuwahnya berupa petaka yang akan terjadi, juga memberikan isyarat berupa petunjuk atau solusi yang sejatinya harus menjadi pedoman umat dalam menghadapi petaka wabah penyakit tersebut.

Model kebijakan Nabi SAW ikhtiyar dalam menghadapi wabah tersebut, antara lain ;

Pertama, Model Preventif ala Nabi SAW, Di tengah berlangsungnya pandemi ini, maka upaya menyelamatkan diri adalah sesuatu yang diperintahkan dalam Islam. Secara spesifik, Rasulullah SAW pun memberikan contoh konkret sebagai upaya untuk menyelamatkan diri sebisa mungkin dari buruknya virus yang mematikan. Cara Nabi SAW ini, sekarang dikenal dengan istilah social fisic distancing, Lockdown, self isolation, dan stay at home. Misalnya, sabda Nabi SAW, “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah SWT  untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu keluar darinya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Selain itu banyak berdiam di rumah pada waktu itu merupakan salah satu upaya pencegahan dari Nabi SAW  untuk menghindari dan meminimalisasi penularan wabah. Karenanya, Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi bagi yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagaimana hadis: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” (HR Bukhari dan Muslim).

Kebijakan Model Preventif ala Rosululloh ini di amini juga oleh Pakar seperti ahli imunologi Dr. Anthony Fauci dan reporter medis Dr. Sanjay Gupta mengatakan bahwa kebersihan dan karantina yang baik, atau praktik isolasi dari orang lain dengan harapan mencegah penyebaran penyakit menular, adalah alat paling efektif untuk mengandung COVID-19.

Kedua, Model Kuratif ala Nabi SAW, Umat disarankan mengonsumsi madu dan kurma berdasarkan pada hadits yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Saudara saya sakit perut”. Rasul menjawab, “Beri ia madu!”. Hal ini dilakukan orang itu sampai tiga kali bolak balik menanyakan kepada Rasul SAW, jawabannya pun tetap madu dan madu” (HR Bukhari, no: 5684 dan Muslim, no: 5731).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Barang siapa yang sarapan setiap hari dengan 7 butir kurma ajwa’, maka tidak akan membahayakannya pada hari itu racun maupun sihir.” (HR. Bukhari, no: 5779 dan Muslim, no: 2047).

Ketiga, Model Spiritual Persuasif ala Nabi SAW. Hal yang sangat penting untuk kita ketahui, bahwa dalam kondisi musibah global ini, setiap manusia hendaklah  sadar dan insyaf atas kealpaannya selama ini. Sebelum terlambat, segeralah ikuti petunjuk jalan yang lurus, yaitu beriman dan beribadah hanya kepada Allah SWT.  Lebih-lebih bagi orang-orang yang beriman, di saat terjadinya petaka ini hendaklah memperbanyak ibadah, dzikir dan doa kepada Allah SWT. Dari Ma’qil  bin Yasar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah pada saat terjadi al-Harj (chaos) keutamaannya seperti orang yang hijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Betapa besar nilai suatu ibadah di saat situasi yang serba sulit, takut dan cemas. Analogi keutamaan ibadah yang dikerjakan pada kondisi yang penuh kesulitan dan kebingungan atau harj (chaos) itu laksana berhijrah kepada Rasulullah SAW. Imam an-Nawawi menyatakan, bahwa yang dimaksud  dengan harj adalah fitnah dan praharanya urusan manusia. Keistimewaan ibadah di dalamnya, karena pada umumnya banyak orang yang melupakan dan mengabaikan urusan ibadah kepada Allah. Termasuk di saat terjadi harj, mereka lalai dan sibuk dalam menghadapi petaka yang tengah terjadi, kecuali sedikit saja golongan yang tekun, komitmen dan sungguh-sungguh dalam beribadah sebagai kewajiban seorang hamba kepada Tuhan-Nya

Dari ‘Utsman bin ‘Affan ra., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, : “Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: Bismillahilladzi Laa Yadhurru Ma’asmihi Syai-un Fil Ardhi Wa Laa Fis Samaa Wa Huwas Samii’ul ‘Aliim (dengan nama Allah Yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dialah Yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak aka nada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan, “Alloohumma Innii ‘Auudzu Bika Minal Baroshi Wal Junuuni Wal Judzaami Wa Sayyi-il Asqoom ” (artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit kulit, gila, lepra, dan dari penyakit yang jelek lainnya).” (HR. Abu Daud, no. 1554; Ahmad, 3: 192. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin juga menyatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Dari Ibnu ‘Umar, dari bapaknya ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang melihat yang lain tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan :“ Alhamdulillahilladzi ‘Aafaani Mimmab Talaaka Bihi, Wa Faddhalani ‘Ala Katsiirim Mimman Khalaqa Tafdhilaa “ (Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang menimpamu dan benar-benar memuliakanku dari makhluk lainnya), Kalau kalimat itu diucapkan, maka ia akan diselamatkan dari musibah tersebut, musibah apa pun itu semasa ia hidup.” (HR. Tirmidzi, no. 3431; Ibnu Majah, no. 3892).

Selain berikhtiar dan doa yang terbaik, penting juga kita mentadaburi QS al-Jumu’ah ayat 8. Bahwa yang  namanya kematian, kemana pun manusia berlari, berlindung dan bersembunyi, maut akan tetap menjumpainya, baik di rumah, di pasar, di masjid, dan di mana pun. Dan bekal utama yang wajib kita jaga dalam situasi apapun pun adalah iman kepada Allah dan beramal saleh. Karena itulah yang menjadi bekal keselamatan sesungguhnya.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan, termasuk fitnah akhir zaman ini, seorang ilmuwan Muslim, Ibn Sina juga pernah mengatakan, “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.” 

Akhirnya, kita berusaha untuk meneladani Rasulullah SAW dalam menghadapi pandemi ini dengan mengikuti Model Kebijakan Rasulullah SAW dalam Ikhtiyar Menghadapi Wabah ini. Melakukan perlindungan yang terbaik dan saling berdoa, semoga semua selamat dari bahaya segala penyakit, khususnya wabah corona saat ini. Dan semoga badai wabah ini segera berlalu, dalam keadaan kita sehat wal’afiat. Wallahu A’lam Bish Showab .

 

April 27, 2020

Hello world!

Filed under: Uncategorized — baghas @ 3:43 am

Welcome to Blog Civitas UPI. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Powered by WordPress